Sebagai seorang muslim tentu setiap kali mendirikan shalat lima waktu, atau shalat-shalat yang lainnya. Dia selalu meminta ditunjukan shirathul mustaqim. Yaitu jalan lurus yang telah lama dilalui oleh orang-orang yang telah diberi nikmat, dan dijauhkan dari jalan orang-orang maghdhubi `alaihim (orang-orang yang Engkau murkai), juga jalan orang-orang dhallin (orang-orang yang sesat). Dalam tafsiran, dua kelompok diatas disebutkan [1], bahwa orang-orang mahgdhubi ‘alaihim adalah Yahudi, sedangkan orang dhallin adalah Nashara. Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,”Dan perbedaan antara dua jalan -yaitu agar dijauhi jalan keduanya-, karena jalan orang yang beriman menggabungkan antara ilmu dan amal. Adalah orang Yahudi kehilangan amal, sedangkan orang Nashrani kehilangan ilmu. Oleh karenanya, orang Yahudi memperoleh kemurkaan dan orang Nashrani memperoleh k..... Continue reading http://almanhaj.or.id/content/3043/slash/0/ketika-beramal-tanpa-ilmu/ Shared from Almanhaj for android http://goo.gl/Krz3Tp
Sabtu, 14 Februari 2015
Kamis, 12 Februari 2015
Tujuan Diciptakan Manusia...
Bismillah,
Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat terutama untuk diri pribadi...
Seberapa penting kita harus bertanya pada diri
kita apa sih tujuan hidup kita? Untuk apa sih kita hidup? Karna jawaban dari
pertanyaan inilah yang akan menentukan jalan hidup kita... yang menjawabnya
dengan benar akan berada dijalan yang benar dan yang menjawab dengan salah pun
berjalan diatas jalan yang salah. Namun sebelum itu sy ingin mengatakan kepada
kita semua bahwa semua kita wajib mempertanyakan ini untuk apa sebenarnya saya
hidup!
Kita ingin menyadari hal ini untuk kemudian kita
bertanya kalo memang ada tujuan, apa tujuan hidup itu? Kalo memang ada maksud
penciptaan, apa maksud penciptaan itu? Kalo memang ada sesuatu yang diinginkan
Allah swt dari penciptaan manusia dan itu pasti ada, kita saja sebagai mahkluk
yang lemah kalo menciptakan sesuatu kita pasti ada maksud dan tujuan dalam
menciptakan sesuatu itu. Manusia menciptakan lampu, lalu untuk meneranginya
selama 12 jam lebih. Manusia ciptakan kendaraan untuk diantarkan dst. Kalo saja
ciptaan manusia yang lemah itu diciptakan tanpa tujuan itu dikatakan aneh dan
tdk benar apalagi dunia yang terbentang begitu luas ini, tanpa maksud dan
tujuan? Tdk mungkin...
Kalo kita melihat kehidupan skr ini kita dapatkan org2
aneh karna mereka tidak tahu untuk apa mereka hidup! Ada yang kerjaannya manjat
gunung hidupnya untuk manjat gunung saja, ada yang kerjaannya untuk balapan
hidupnya untuk balapan. Ada yg kerjaannya untuk tendang bola hidupnya untuk
tendang bola... rasanya terlalu mahal kaki ini hidup hanya untuk nendang bola. Ada
yang kerjaannya Cuma cari harta saja seolah2 hidupnya hanya untuk mengumpul
harta dan ini Allah ta’ala cela dalam Q.S Al Humazah 1. Kecelakaanlah bagi
setiap pengumpat lagi pencela 2. yang
mengumpulkan harta dan menghitung-hitung*.
[*] Maksudnya
mengumpulkan dan menghitung-hitung harta yang karenanya dia menjadi kikir dan
tidak mau menafkahkannya di jalan Allah.
Dan bukan
tidak ada org hidup hanya sekedar untuk itu karna dia tidak tau lagi hidup
untuk apa. Ada yang hidupnya untuk
mengejar popularitas seolah2 dia diciptakan Allah swt untuk itu tidak ada
maksud dan tujuan lain. Dan semua ini karna tidak terjawab jawaban yang sangat
penting ini “Untuk Apa Kita Hidup” “Untuk Apa Allah Ciptakan Kita”. Jadi
menurut saya, mudah2an menurut kita semua seperti itu juga “ini pertanyaan
penting sekali”. Letakkan selalu di depan pelupuk mata kita pertanyaan besar
ini “Untuk Apa Kita Hidup”. Allah tidak biarkan kita menjawab sendiri karna
kalo manusia dibiarkan menjawab sendiri jawabannya pasti beraneka ragam karna
manusia bervariasi dalam pendidikan, pengalaman hidup, dalam lingkungan
mempengaruhi, usia, kecerdasan mempengaruhi cara berpendapat dan menganalisa.
Allah tidak biarkan manusia untuk menjawab masing2, Allah terangkan sejelas2nya
dalam Alquran dan melalui Rasulullah saw. Kita disuruh baca, pelajari, ikuti.
Allah swt berfirman dalam Alquran untuk menjawab pertanyaan penting tadi.
Didalam Q.S Ad Dzariat ayat 56. "Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku" SINGKAT, JELAS, PADAT...
Wallahu a'lam,
Semoga bermanfaat terutama untuk diri pribadi...
Senin, 09 Februari 2015
Nasehat Imam Asy-Syafi'i
Beliau rahimahullah berkata dalam kitab Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i,
Aku melihat pemilik ilmu hidupnya mulia walau ia dilahirkan dari orangtua terhina.
Ia terus menerus menerus terangkat hingga pada derajat tinggi dan mulia.
Umat manusia mengikutinya dalam setiap keadaan laksana pengembala kambing ke sana sini diikuti hewan piaraan.
Jikalau tanpa ilmu umat manusia tidak akan merasa bahagia dan tidak mengenal halal dan haram.
Ia terus menerus menerus terangkat hingga pada derajat tinggi dan mulia.
Umat manusia mengikutinya dalam setiap keadaan laksana pengembala kambing ke sana sini diikuti hewan piaraan.
Jikalau tanpa ilmu umat manusia tidak akan merasa bahagia dan tidak mengenal halal dan haram.
Diantara keutamaan ilmu kepada penuntutnya adalah semua umat manusia dijadikan sebagai pelayannya.
Wajib menjaga ilmu laksana orang menjaga harga diri dan kehormatannya.
Siapa yang mengemban ilmu kemudian ia titipkan kepada orang yang bukan ahlinya karena kebodohannya maka ia akan mendzoliminya.
Wajib menjaga ilmu laksana orang menjaga harga diri dan kehormatannya.
Siapa yang mengemban ilmu kemudian ia titipkan kepada orang yang bukan ahlinya karena kebodohannya maka ia akan mendzoliminya.
Wahai saudaraku, ilmu tidak akan diraih kecuali dengan enam syarat dan akan aku ceritakan perinciannya dibawah ini:
Cerdik, perhatian tinggi, sungguh-sungguh, bekal, dengan bimbingan guru dan panjangnya masa.
Setiap ilmu selain Al-Qur’an melalaikan diri kecuali ilmu hadits dan fikih dalam beragama.
Ilmu adalah yang berdasarkan riwayat dan sanad maka selain itu hanya was-was setan.
Cerdik, perhatian tinggi, sungguh-sungguh, bekal, dengan bimbingan guru dan panjangnya masa.
Setiap ilmu selain Al-Qur’an melalaikan diri kecuali ilmu hadits dan fikih dalam beragama.
Ilmu adalah yang berdasarkan riwayat dan sanad maka selain itu hanya was-was setan.
Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru.
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.
Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,
Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.
Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.
Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.
Sesungguhnya gagalnya mempelajari ilmu karena memusuhinya.
Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,
Maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.
Demi Allah hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.
Bila keduanya tidak ada maka tidak ada anggapan baginya.
Ilmu adalah tanaman kebanggaan maka hendaklah Anda bangga dengannya. Dan berhati-hatilah bila kebanggaan itu terlewatkan darimu.
Ketahuilah ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pikirannya tercurah pada makanan dan pakaian.
Pengagum ilmu akan selalu berusaha baik dalam keadaan telanjang dan berpakaian.
Jadikanlah bagi dirimu bagian yang cukup dan tinggalkan nikmatnya tidur
Mungkin suatu hari kamu hadir di suatu majelis menjadi tokoh besar di tempat majelsi itu.
***Ketahuilah ilmu tidak akan didapat oleh orang yang pikirannya tercurah pada makanan dan pakaian.
Pengagum ilmu akan selalu berusaha baik dalam keadaan telanjang dan berpakaian.
Jadikanlah bagi dirimu bagian yang cukup dan tinggalkan nikmatnya tidur
Mungkin suatu hari kamu hadir di suatu majelis menjadi tokoh besar di tempat majelsi itu.
Disadur dari kitab Kaifa Turabbi Waladan Shalihan (Terj. Begini Seharusnya Mendidik Anak), Al-Maghrbi bin As-Said Al-Maghribi, Darul Haq.
Rabu, 28 Januari 2015
"Aku Tidak Boleh Melepaskan Sebiji Jagung Yang Ada Di Depan Mata Hanya Karena Untuk Mendapatkan Sebuah Berlian Yang Baru Sekedar Janji"
Bismillah,
"Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan." (an-Nuur: 44)
Wallahu a'lam... Semoga Bermanfaat
Cacat inilah yang menghalangi jiwa-jiwa manusia dalam mempersiapkan diri untuk akhirat, beramal dan berusaha untuk menghadapinya. Ini karena lemahnya ilmu dan lemahnya keyakinan akan akhirat itu. Sebab, kalau ada keyakinan paten dan tidak ada lagi keraguan yang meliputi hati, tentu seseorang tidak akan meremehkannya dan pasti akan berharap penuh terhadapnya.
Oleh karena itu, kalau seseorang disuguhi makanan yang begitu lezat lagi nikmat dan dia sedang amat butuh kepadanya lalu diberitahu kalau makanan itu beracun, tentu ia tidak akan menyentuhnya karena dia tahu bahaya akibat memakan makanan itu melampaui kelezatan menyantapnya. Mengapa keimanan seseorang terhadap akhirat tidak tertanam seperti itu dalam hatinya? Hal ini tentu disebabkan lemahnya pohon ilmu dan iman terhadap akhirat dalam hati.
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kalau seseorang mengutamakan urusan dunia dan tidak mempersiapkan diri untuk akhirat, berarti imannya tidak sempurna.
"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya)" (an-Naazi'aat: 26)
"Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan." (an-Nuur: 44)
Wallahu a'lam... Semoga Bermanfaat
Sabtu, 24 Januari 2015
Memaknai Kalimat Tauhid
Bismillah Walhamdulillah,
Keselamatan seorang hamba bukan hanya sekedar mengucapkan
Laailahaillallah tanpa beramal tapi yang menyelamatkan seorang hamba adalah
mengucapkannya dan menjalankan konsekuensi dari kalimat Lailahaillallah dengan
penuh keikhlasan. Kalimat Laailahaillallah hanya bermanfaat dan hanya bisa
menjadi sebab keselamatan jika diucapkan oleh seorang hamba diatas 3 perkara,
yaitu :
1. Mengucapkan
dengan ILMU, mengerti makna
laailahaillallah, hakikat laailahaillallah. Dan yang mengucapkan
laailahaillallah diatas ilmu maka dia telah keluar dari jalannya org2 nashara
yg mereka beramal, berucap dan berbuat tanpa ilmu.
2. Mengucapkan
dengan Mengamalkannya, mengamalkan konsekuensi dari kalimat laailahaillallah. Dan
yang mengucapkan Laailahaillallah disertai amalan maka dia telah keluar dari
jalannya org2 yahudi yang mereka berilmu namun tidak mengamalkannya.
3. Mengucapkan
dengan Sidq atau kejujuran/ketulusan dari hati
dan benar2 dari lubuk hatinya. Dan yg mengucapkan Laailahaillallah
dengan ketulusan dari hati maka dia telah keluar dari jalannya org2 munafik
dimana mereka menampakkan apa yang menyimpang dari isi hati mereka.
Kajian : Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq Al-Badr
Nasehat
Bismillah Walhamdulillah,
Saudara dan saudariku yang dirahmati Allah Ta’ala jika kita merasa
pesimis karna tidak bisa atau tidak mengetahui tentang Alqur’an dan
Sunnah atau bagaimana cara membaca Alqur’an jangan malu untuk memulainya
dan ketika seseorang datang kepadamu di mesjid atau datang secara
pribadi dan mengatakan saya ini seorang insinyur atau doktor tapi sama
sekali tidak tahu tentang Alqur’an saya tidak bisa membacanya terakhir
saya membacanya pada usia 10 tahun. Jangan marah padanya dan mengatakan
“Astagfirullah”.
Allah Ta’ala berfirman : Andaikata engkau itu
berakhlak jelek serta keras hati, sesungguhnya orang-orang itu samua
lari dari sekelilingmu." (Q.S Ali-Imran : 159)
Ingat saudara/i ku
mereka datang kepadamu hormati dia, bisa jadi Allah Ta’ala melihat
mereka sebagai orang yang lebih baik/berharga dibanding apa yang sudah
kita lakukan selama ini. Mereka hijrah ke Allah Ta’ala dan melangkahkan
kakinya dengan bangga mereka itu terpelajar dalam bidangnya tetapi
mereka mengakui ketidaktahuan mereka di depan orang lain. Itu adalah
kerendahan hati di depan Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala mencintai itu.
Maka kita harus menghormatinya, kita harus undang/ajak mereka dan buat
mereka merasa disambut.
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersabda : “Sesungguhnya tidaklah sifat
lemah lembut ada pada suatu tindakan kecuali ia pasti akan membuat
tindakan itu indah, dan tidaklah sifat lemah lembut dicabut dari pada
suatu tindakan kecuali ia pasti akan membuat tindakan itu cacat.” (HR.
Muslim)
Inilah yang harus kita lakukan, dan perlu diingat bahwa kita
ummat muslim tidak semua hebat dalam membaca Alqur’an, tidak semua kita
mengetahui makna dari Alqur’an, bagaimana menafsirkan atau menghafalnya.
Jadi jangan berikan respon negatif terhadap mereka yg tidak
melaksanakan sholat 5 waktu, pedulilah terhadap mereka karna jika tidak
maka kita tidak akan pernah membawa mereka pada pengetahuan tentang
agama Islam. Kita belum bisa dikatakan sebagai muslim jika kita tidak
memperhatikan atau peduli terhadap mereka. Perlu kita ketahui sikap
sikap sebagai berikut:
Sikap Mengalihkan Perhatian Dari Jalan Maksiat
Ketika
mendengar salah satu sahabat kita berniat ingin ke bioskop atau
diskotik lalu kita hanya mengatakan astagfirullah tanpa ada tindakan
pencegahan padahal sebenarnya kita bisa saja mengalihkan niat mereka
untuk pergi dengan cara mengajak mereka bermain futsal atau traktir dia
makan martabak, masih banyak hal hal positif yang bisa kita lakukan
untuk mencegah mereka ke jalan maksiat.
Al Imam Ibnu Qutaibah
rahimahullah berkata: “Hanyalah kebatilan itu menjadi kuat dengan dia
itu didiamkan.” (“Al Ikhtilaf Fil Lafzh”/karya beliau/sebagaimana dalam
kitab “Ash Showarif ‘Anil Haqq”/Hamd bin Ibrohim Al ‘Utsman/hal.
140/Darul Imam Ahmad).
Kita juga mestinya tidak menampakkan wajah
marah kita terhadap umat muslim yang tidak sholat berjama’ah di mesjid,
mereka itu saudara muslim kita mereka juga hamba Allah Ta’ala. Allah
Ta’ala tidak pernah menutup pintu hidayah kepada siapapun bahkan
terhadap orang2 kafir jadi kenapa kita mahluk yang lemah ini menutup
pintu hati kita terhadap saudara/i muslim kita sendiri?
Sikap Dengan Memberikan Udzur
Kenapa
para saudari muslimah yang telah menggunakan hijab melihat dengan mata
kebencian terhadap wanita yang belum menggunakan hijab? Dia tidak
memakai hijab sebab mungkin tidak ada seorangpun yang mengajarinya, atau
mungkin dia tidak mengetahui kalo hijab itu hukumnya wajib. Barangkali
jika ada orang yang bicara padanya dengan lemah lembut memperlakukan dia
dengan baik dan menghormatinya tidak menutup kemungkinan dia bisa
berubah pikirannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
: “Kalian tidak diutus kecuali hanya untuk memberikan kemudahan bukan
membuat kesulitan” (HR. Bukhari)
Maka kita sepantasnya memiliki sifat
seperti itu dan ini juga menjadi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam untuk mengajarkan Alqur’an dan Sunnah dengan penuh cinta,
bahkan bagi mereka yang benci.
Wallahu a’lam
Langganan:
Postingan (Atom)